nikah muda
Artikel,  Konsultasi Pranikah,  Seputar Hukum

5 Alasan Syawal dan Dzulhijah jadi Bulan Menikah

Kata siapa di kalender Indonesia hanya ada 12 bulan. Selain Januari sampai Desember, ada nama bulan lagi yang jadi perhatian banyak orang, yaitu bulan menikah. Pada bulan tersebut juga kerap disebut sebagai musim nikah atau musim kondangan. Musim nikah atau musim kondangan melengkapi khasanah permusiman di Indonesia setelah muncul beragam musim lain seperti musim duren, musim petasan, musim batu akik, dan musim sepeda.

Jika musim nikah tiba, siap-siap menambah kadar kesabaran dan kadar ketebalan dompet. Banyak tuan hajat yang menutup ruas jalan sehingga harus memutar arah. Selain mohon doa restu, undangan juga mengharuskan kita mengeluarkan isi dompet.

Ada istilah peak season di mana pada rentang waktu itu banyak orang melangsungkan pernikahannya. Biasanya ramai orang menikah setelah Idul Fitri dan Idul Adha. Nah, kenapa banyak orang cenderung menikah pada waktu-waktu tersebut? padahal masih banyak bulan lain untuk melangsungkan pernikahan. Yuk, kita cari jawabannya, ya.

Menikah di Bulan Syawal Mengikuti Sunnah Rasul dan Tradisi

foto by Indra KMC for oemahmanten.id

Sebenarnya, Islam membolehkan menikah pada bulan apa saja. Tak terbatas pada bulan-bulan tertentu. Meski demikian, ada riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah menikah pada bulan Syawal. Jadi sebagian masyarakat menilai bulan tersebut sebagai bulan yang baik untuk menikah karena mengikuti sunnah Rasul. Menikah di bulan Syawal juga sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Indonesia.

Momentum Libur dan Kebersamaan

people in white uniform standing on brown sand during daytime

Banyak orang sekarang yang lebih berpikir praktis dalam menentukan hari pernikahan. Mereka memanfaatkan momentum libur Idul Fitri untuk melangsungkan pernikahan karena bertepatan dengan waktu libur kerja dan kebersamaan dengan orang-orang terdekat atau keluarga besar. Tak bisa dipungkiri, bahwa Idul Fitri adalah waktu libur nasional. Dimana semua orang berbondong-bondong untuk pulang ke kampung halaman dan berkunjung untuk menjalin silaturahmi.

Bulan Haji adalah Bulan Besar

weddingbulanmenikah

Dalam kalender Jawa, bulan haji atau bulan Dzulhijjah disebut bulan besar. Bulan besar dipercaya sebagai bulan paling baik dalam melangsungkan pernikahan oleh masyarakat Jawa. Melangsungkan pernikahan di bulan ini dipercaya akan memberikan pasangan yang menikah kebahagiaan dan dikaruniai keselamatan. Banyak orang yang masih berpegang erat pada kalender ini sehingga bulan Haji selalu ramai orang-orang menikah.

Penegasan Ibadah Seorang Muslim di Bulan Menikah

bulan menikah

Haji merupakan ibadah seumur hidup sekaligus simbol kesempurnaan agama dan ibadah pamungkas. Karena kewajiban untuk melaksanakan haji yang dibebankan kepada seorang muslim yang sudah dewasa dan mampu hanya sekali berbeda dengan rukun Islam lain.

Menikah juga disebut sebagai penyempurna separuh agama. Maksud dari menyempurnakan separuh agama dijelaskan oleh Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin . Itu menyebutkan bahwa barang siapa yang menikah, berarti telah melindungi setengah agamanya. Sedangkan untuk melindungi setengah agama yang lainnya, maka diwajibkan untuk bertakwa kepada Allah.

Itulah kenapa bulan haji banyak dipilih masyarakat untuk melangsungkan akad maupun resepsi pernikahan.

baca juga: Cara Berbakti pada Orang Tua setelah Menikah

Antara Mengencangkan dan Melonggarkan Ikat Pinggang

Alasan kelima mengutip dari tulisan Ahmad Zuhairuz Zaman, Dekan Fakultas Syariah dan Ekonomi Bisnis Islam Institut Agama Islam al-Falah Assunniyah (Inaifas) Kencong, Jember. Tulisan tersebut menjelaskan bahwa antara menikah dan haji mempunyai keterkaitan. Meski ditulis dengan sedikit humor, namun itu menjelaskan tentang hakikat haji dan menikah yang sama-sama merupakan ibadah yang besar.

Penulis mengutip penjelasan dari KH Maimoen Zubair. Beliau pernah menyampaikan dalam bahasa Jawa: Nikah kuwi podo plek karo haji. Bedane jamaah haji karo manten anyar, nek haji sabuke kudu dirapetke, nek manten anyar sabuke kudu dikendo’ke. Artinya, menikah itu sama persis dengan ibadah haji. Bedanya, kalau jamaah haji harus mengencangkan ikat pinggang, tetapi kalau pengantin baru justru melonggarkan ikat pinggang.

Itulah 5 alasan kenapa ada bulan menikah atau musim nikah di Indonesia, khususnya di Jawa. Waktu pelaksanaan menikah di bulan Syawal maupun Dzulhijjah sebenarnya sudah menjadi tradisi saja. Hal itu menyebabkan kecenderungan orang menikah pada bulan-bulan tersebut. Jika hendak menikah di bulan yang lain, juga tak masalah. Pertimbangan-pertimbangan waktu dan materi yang lebih logis harus lebih diutamakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

× chat kami