adat pernikahan Jawa
Artikel

6 Mitos dalam Adat Pernikahan Jawa, Ada yang Masih Percaya?

Suku Jawa dikenal dengan keragaman adat istiadat dan tradisi yang cukup kental. Itu melekat hampir di setiap sendi kehidupan, termasuk dalam adat pernikahan Jawa. Dalam pernikahan Jawa tersebut, selain tradisi yang dilestarikan turun-temurun, juga ada mitos tentang larangan pernikahan.

Mitos itu harus dipatuhi agar prosesi pernikahan bisa berjalan lancar, serta rumah tangga kelak senantiasa rukun dan harmonis. Sebagian orang mempercayainya, dan yang lainnya menganggap hal-hal tersebut hanyalah sebagai mitos pernikahan yang diragukan kebenarannya.

Apa saja mitos dalam adat pernikahan Jawa, simak ulasannya berikut ini, ya.

Menghitung Hari atau Weton

Foto: JM Photo 12. Makeup & Attire: Aini Oemah Manten

Sebagian besar orang tua di Jawa pasti tahu istilah tentang weton. Weton atau “wetu” dalam bahasa Jawa berarti “keluar” atau “lahir” yang merujuk pada hari lahir seseorang, yaitu kliwon, legi, pahing, pon, dan wage. Beberapa aturan weton dipercaya sebagai mitos, tapi banyak juga yang meyakininya.

Tradisi yang identik dengan masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur ini, menghitung kecocokan pasangan berdasarkan hari, tahun, dan tanggal lahir masing-masing. Jika hitungannya cocok berarti pasangan tersebut diramalkan akan harmonis dan diberikan kelancaran ke depannya. Sebaliknya, jika weton tidak cocok, konon katanya rumah tangga pasangan itu akan selalu dirundung masalah. 

Sebagian besar orang di Jawa sudah mulai meninggalkan tradisi ini. Apalagi bagi orang-orang yang sudah berpikiran praktis. Weton bisa jadi merupakan hal yang dianggap menyulitkan pernikahan. Misalnya, ada pasangan yang sudah saling mencintai dan yakin akan menikah, namun ketika dihitung berdasarkan wetonnya, ternyata tidak pas. Sesuai weton, pasangan ini tidak boleh menikah.

Pada dasarnya, setiap pernikahan memang harus memperhitungkan hari. Memperhitungkan hari yang dimaksud adalah menyusun rencana atau musyawarah antara kedua keluarga calon pengantin dalam menentukan tanggal pernikahan maupun acara resepsi. Menghitung hari dalam konteks ini diperlukan agar acara bisa berjalan lancar.

simak juga: Tips Merencanakan Pernikahan di Rumah

Mitos Larangan Pernikahan antara Anak Pertama dan Ketiga

adat pernikahan Jawa
foto: Furqonmotret. MUA &Attire: Aini Oemah Manten

Mungkin generasi milenial banyak yang tidak tahu tentang mitos larangan ini. Namun, oleh para orang tua penganut kepercayaan adat Jawa, maka larangan satu ini mungkin tak asing. Larangan pernikahan antara anak pertama dan ketiga atau biasa disebut jilu (siji karo telu).

Mitosnya, jika anak pertama dan ketiga menikah, rumah tangganya akan sulit akur dan sering diterpa masalah. Menurut mitos adat Jawa, karakter anak pertama dan ketiga saling bertolak belakang. Hal tersebut diyakini akan menjadi sumber pertengkaran, sehingga muncul masalah-masalah dalam rumah tangga yang membuat pernikahan tidak langgeng. 

Larangan Pernikahan Sesama Anak Pertama atau Siji Jejer Telu

Larangan dalam mitos ini tidak hanya terkait dengan kamu dan pasanganmu, tetapi juga berkaitan dengan salah satu dari orang tua kalian.

Jika kamu dan pasanganmu merupakan anak pertama, serta salah satu orangtua kalian juga merupakan anak pertama, maka bersiap-siaplah untuk patah hati. Sebab, konon katanya anak pertama tidak akan cocok menikah dengan anak pertama dari orangtua yang juga anak pertama.

Dalam adat pernikahan Jawa, kondisi ini dikenal dengan istilah siji jejer telu (1 1 1). Menurut mitos Jawa, jika pernikahan tetap dilangsungkan, maka akan mendatangkan malapetaka. 

Larangan Menikah di Bulan Sura

Pada sebagian besar masyarakat Indonesia, khususnya di Jawa, ada kepercayaan atau keyakinan yang menyebutkan bahwa menikah merupakan larangan di bulan Suro. Konon, bulan Sura atau bulan Muharram merupakan bulan yang tidak baik untuk menikah. Itu berbeda dengan bulan Haji yang justru dikenal sebagai bulan pernikahan.

Ada beberapa kepercayaan yang cenderung bersifat mitos maupun tradisi di masyarakat yang menjadikan bulan Sura sebagai waktu terlarang untuk menikah. Misalnya bulan Sura adalah waktu di mana Nyi Roro Kidul melangsungkan pernikahan. Atau mitos menikah di bulan Suro tidak akan langgeng. Meski demikian, ada juga alasan-alasan logis yang menyertainya

baca juga: Alasan Logis Larangan Menikah di Bulan Suro

Larangan Menikah karena Faktor Jarak Rumah

people sitting on chairs near brown wooden house under white clouds during daytime

Hayoo, siapa yang pacaran dengan tetangga rumah? Siap-siap putus nih!. Sebab, mitos pernikahan selanjutnya cukup unik, yakni larangan menikah bagi pasangan yang rumahnya berseberangan atau hanya berjarak lima langkah satu sama lainnya. Masyarakat adat Jawa percaya bahwa apabila pernikahan tetap dipaksakan maka rumah tangganya akan mengalami kekurangan dan kesulitan. Wah, siap-siap pindah rumah dulu, deh!

Berikutnya, juga ada kepercayaan yang menyebutkan bahwa apabila menikah dengan seseorang yang tinggal berdekatan dengan rumah saudara ipar maka akan menyebabkan salah satu orangtuanya meninggal dunia. Terkesan mendahului takdir ya, padahal hidup dan mati di tangan Tuhan.

Larangan Pernikahan Suku Jawa dan Sunda

berpisah dengan orang tua

Banyak orangtua dari Suku Jawa melarang atau mewanti-wanti anaknya untuk tidak menikah dengan suku Sunda, begitu pula sebaliknya. Mitos larangan pernikahan ini konon berawal dari zaman Majapahit, yang mana saat itu Patih Gajah Mada harus menelan sumpahnya sendiri. Janjinya untuk menyatukan khatulistiwa dibawah kekuasaan dinasti Majapahit, harus mengalami penolakan dari Kerajaan Sunda. Inilah yang akhirnya menyebabkan perseteruan antara keduanya. Hingga kini, mitos ini masih melekat di antara kedua suku.

Tapi kondisi saat ini, banyak kok pasangan yang berasal dari suku Jawa dan Sunda yang menikah. Dan kondisi mereka saat ini baik-baik saja.

baca juga: Kriteria Calon Suami yang Baik menurut Islam

Demikian sejumlah mitos larangan dalam adat pernikahan Jawa. Sesuai namanya, mitos, adalah hal-hal yang diragukan kebenarannya. Atau justru kita tak perlu mempercayainya.

Yang jelas, dalam setiap pernikahan, perlu perencanaan yang matang, dalam setiap kehidupan berumah tangga, ada adab dan kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan untuk mewujudkan pernikahan yang sakinah, mawaddah warahmah.

3 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

× chat kami