Artikel,  Seputar Hukum

Memaknai Nominal Mahar yang Baik

Saya terima nikahnya Aini Cahaya Hati Binti Sukarso dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang tunai tiga ratus ribu sembilan puluh sembilan rupiah dibayar tuuunai.

Mahar tak bisa dilepaskan dalam setiap pernikahan. Mahar yang cukup populer di masyarakat yaitu seperangkat alat sholat dan juga sejumlah uang tunai yang dikemas sedemikian rupa. Lalu, bagaimana sebenarnya nominal mahar yang baik menurut Islam?

nominal mahar yang baik

Arti Mahar

Secara bahasa, mahar adalah kata serapan dari bahasa arab. Menurut Ibnu Mandzur almahru adalah sinonim dari kata ashodaqu jamaknya adalah muhuruun, yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai maskawin.

Maskawin yaitu pemberian wajib berupa uang atau barang dari mempelai laki-laki kepada mempelai perempuan ketika dilangsungkan akad nikah (KBBI). Sedangkan secara istilah, dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) disebutkan bahwa mahar adalah pemberian dari calon mempelai pria kepada calon mempelai wanita, baik berbentuk barang, uang atau jasa yang tidak bertentangan dengan hukum Islam.

Pernikahan yang dilaksanakan oleh sepasang laki-laki dan perempuan mempunyai beberapa kewajiban yang harus dipenuhi. Salah satunya adalah mahar. Para ulama mencapai kesepakatan bahwa hukum mahar adalah wajib karena banyaknya ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi saw yang mengisyaratkan hal tersebut.

Mahar bukanlah sebuah harga bagi laki-laki untuk membeli perempuan karena pernikahan bukanlah sebuah ajang jual beli. Mahar merupakan nafkah pertama yang diberikan seorang suami kepada istri yang baru dinikahinya.

Meski mahar tidak termasuk rukun dan syarat nikah, akan tetapi memberikan mahar kepada perempuan merupakan sebuah kewajiban. Mahar menjadi tanda sebuah penghargaan dari laki-laki kepada perempuan yang dinikahinya.

Oleh karena itu, nominal mahar yang baik bersifat relatif tidak ditentukan jumlah dan ukuran yang pasti, disesuaikan dengan kemampuan dan kepantasan dalam masyarakat. Namun, di dalam Islam ada beberapa bentuk mahar yang bisa diberikan kepada perempuan. Berikut ini bentuk-bentuk mahar yang dianjurkan di dalam Islam!

bibit bebet bobot

Mahar atau Maskawin Berupa Uang

Mahar berupa uang sudah menjadi tren di masyarakat. Saat ini bermunculan beragam jasa untuk mengemas mahar uang dalam bentuk yang unik dan menarik. Uang menjadi alat penukaran yang bisa dibelanjakan.

Dahulu, masyarakat Arab mengunakan dua jenis uang, yakni dirham dan dinar. Dirham merupakan mata uang yang dibuat dari perak, sedangkan dinar terbuat dari emas.

Rasulullah ketika menikahi Aisyah memberikan mahar berupa 500 dirham sesuai permintaan Aisyah, hal ini tertuang dalam salah satu hadist riwayat Muslim yang berbunyi:

Dari Abu Salamah bin Abdurrahman, bahwa dia berkata: “Aku pernah bertanya kepada Aisyah, “Berapakah maskawin Rasulullah?” Dia menjawab: “Mahar beliau terhadap istrinya adalah 12 uqiyah dan satu nasy. Tahukah kamu, berapakah satu nasy itu?” Abu Salamah menjawab: “Tidak”. Aisyah berkata: “1/2 uqiyah, jumlahnya sama dengan 500 dirham. Demikianlah maskawin Rasulullah untuk masing-masing istri beliau.”

Mata uang dinar juga biasa dipakai masyarakat Arab kala itu untuk mahar, 1 dinar seharga 10 dirham dengan patokan 1 dirham setara harga  1 ekor kambing.

baca juga:

Manfaat Mengunjungi Wedding Expo

Puasa Mutih untuk Calon Pengantin Laki-Laki

Mahar Berupa Jasa

Selain uang, pemberian mahar bisa juga diberikan dalam bentuk jasa, yakni pemberian manfaat kepada atas sesuatu kepada istri. Salah satu contoh mahar berupa jasa, yakni pengajaran Alquran yang dilakukan oleh suami kepada istrinya.

Selain itu, mahar berupa jasa dapat pula dalam bentuk hafalan Alquran. Biasanya orang-orang yang memberikan mahar berupa hafalan Alquran ini akan melafalkan surah-surah tertentu yang menjadi maharnya sebelum mengucapkan ijab qabul.

Mahar berupa jasa bisa juga dalam bentuk seorang pembantu yang disewa oleh suami untuk menjadi mahar bagi istrinya. Hal ini didasari dari ayat Alquran yang menjelaskan tentang mahar dari pernikahan Nabi Musa dengan anak gadis Nabi Syuaib yang berupa jasa pekerja.

Berkatalah dia (Syu’aib): “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku 8 tahun dan jika kamu cukupkan 10 tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu Insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik”. (QS. al-Qosos: 27)

Mahar Berupa Benda

Nominal mahar yang baik mengacu pada prinsip ini. Yaitu suatu benda yang memiliki nilai jual juga bisa dijadikan mahar di dalam pernikahan. Di zaman sekarang, benda yang sering dijadikan sebagai mahar berupa logam mulia, perhiasan dan seperangkat alat salat. Akan tetapi, beberapa sahabat Rasulullah ada yang memberikan mahar berupa baju seperti yang dilakukan Ali kepada Fatimah.

Dari Ibnu Abbas, bahwa Ali berkata: Dahulu saat aku akan menikahi Fathimah – radliallahu ‘anha -, aku berkata: wahai Rasulullah, tolong Fatimah serumahtanggakan denganku, beliau bersabda: “Baik, berilah ia sesuatu.” Aku berkata: Aku tidak memiliki sesuatu. Beliau bersabda: “Dimanakah baju zirahmu yang anti pedang itu?.” Aku menjawab: Ia ada padaku. Beliau bersabda: “Berikan padanya.” (HR. Nasai, Thabrani dan Baihaqi).

Barang yang diberikan sebagai mahar tidak sah jika tidak ada nilai atau harganya. Contoh barang-barang yang tidak sah dijadikan mahar adalah:

  • Benda yang tidak bernilai, seperti sampah, reruntuhan bangunan dan semisalnya.
  • Benda najis, seperti darah, bangkai, tinja, anjing, babi dan semua benda najis lainnya.
  • Benda yang tidak ada manfaatnya, seperti barang bekas limbah yang tidak lagi berguna.
  • Benda yang tidak bisa diserahkan, contohnya ikan yang berenang di laut lepas
  • Benda yang tidak diketahui keberadaannya, seperti mobil yang dicuri dan tidak jelas apakah akan kembali atau tidak.

Makna Mahar Seperangkat Alat Sholat

Di Indonesia yang mayoritas beragama Islam, ijab kabul dengan mahar seperangkat alat sholat sudah menjadi hal yang sangat wajar. Kalaupun tidak dijadikan sebagai mahar, bisa jadi seperangkat alat sholat itu masuk ke dalam bagian seserahan. Artinya, seperangkat alat sholat adalah hal yang tidak bisa dipisahkan dari ritual pernikahan khususnya di Indonesia.

Nah, sebenarnya ada makna, konsekuensi dan tanggung-jawab yang besar di balik penyerahan seperangkat alat sholat kepada calon istri di hari pernikahanmu. Yaitu:

1. Seperangkat alat sholat adalah simbol, bahwa sang suami siap membimbing dan menuntun istri dalam hal agama

2. Mushaf Al-Quran melambangkan bahwa si calon suami siap mengajari bacaan dan pemahaman Quran istri sampai betul-betul bisa

3. Mukena juga bermakna bahwa suami akan senantiasa mengingatkan istri dan keluarga untuk tidak lupa menjalankan sholat

4. Sajadah bermakna ajakan untuk bersujud kepada Allah dan bentuk tanggung jawab suami untuk menyediakan tempat ibadah yang layak

Demikian ulasan tentang nominal mahar yang baik dan juga tentang mahar berupa seperangkat alat sholat. Semoga bermanfaat, ya!

Baca juga

Tips Menghadapi Godaan Jelang Pernikahan

Tips Menabung untuk Biaya Nikah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

× chat kami