tradisi pernikahan
Artikel

Tradisi Buang Ayam di Jembatan Sungai Gung Tegal

Kabupaten Tegal memiliki beragam tradisi pernikahan yang mencerminkan adanya akulturasi budaya dan toleransi dengan sesama. Salah satu tradisi perkawinan yang masih dilestarikan hingga kini yaitu membuang ayam di jembatan Sungai Gung oleh iring-iringan pengantin. Tradisi tersebut dipercaya bisa menghindarkan sepasang pengantin dari marabahaya atau celaka.

Berikut kami ulas seputar tradisi pernikahan pengantin baru membuang ayam di jembatan Sungai Gung yang ada di Kabupaten Tegal.

Tradisi Pernikahan Buang Ayam Dilaksanakan setelah Akad Nikah

tradisi pernikahan
foto by: Furqonmotret

Tradisi membuang ayam di jembatan biasanya dilaksanakan setelah akad nikah. Tradisi tersebut dikhususkan bagi pasangan pengantin yang rumahnya dipisahkan oleh sungai yang cukup besar. Dalam konteks di Tegal, biasanya adalah Sungai Gung. Jadi ketika iring-iringan pengantin melewati jembatan tersebut, diharuskan membawa sepasang ayam untuk dibuang di sungai. Menurut kepercayaan setempat, jika hal itu tidak dilakukan, maka pengantin bisa celaka.

Ayam yang Dibuang Harus Sepasang Jantan dan Betina

red black and white rooster

Jenis ayam yang dibuang di jembatan diharuskan sepasang. Yakni jengger atau ayam jantan yang masih muda, dan babon atau ayam betina. Tradisi membuang ayam biasanya dilakukan saat iring-iringan pengantin menuju kediaman pengantin laki-laki. Saat itu, satu ekor ayam jantan dilepaskan di jembatan. Saat iring-iringan kembali ke rumah pengantin perempuan, barulah satu ekor ayam berikutnya, yaitu babon, dilepas di jembatan.

Dulu Tumbal, Sekarang Sedekah

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Ali Firdaus (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) pada 2018, sepasang ayam yang dibuang di jembatan Kali Gung pada mulanya merupakan tumbal penolak bala. Ayam yang dibuang sengaja dihanyutkan dan nantinya akan mati sebagai tumbal. Namun, seiring berjalannya waktu, sepasang ayam yang dibuang tersebut tidak sepenuhnya dilempar ke sungai. Sepasang ayam tersebut kini hanya dilempar di mulut jembatan untuk diperebutkan anak-anak ataupun orang dewasa yang sudah menunggu momen tersebut.

Tradisi Buang Ayam Juga Ada di Kudus dan Brebes

Tradisi membuang ayam di jembatan biasanya dilakukan oleh masyarakat di beberapa desa di Kabupaten Tegal, khususnya desa-desa yang dilintasi aliran sungai besar seperti Kali Gung di wilayah Pangkah dan Kecamatan Talang. Namun demikian, dari penelusuran data, tradisi serupa juga dilakukan oleh masyarakat Kabupaten Kudus dan Brebes.

Prosesi itu bukan hanya dilakukan pengantin pria saja, terkadang mempelai wanita saat ngunduh mantu juga melakukan tradisi serupa. Lokasinya di jembatan sungai besar yang ada di Kota Kretek, seperti Jembatan Kali Gelis, Jembatan Ploso, ataupun Jembatan Tanggulangin. Di Brebes, lokasi tradisi biasanya berada di Jembatan Sungai Pemali.

Banyak yang percaya, prosesi tersebut bisa menghindarkan sepasang pengantin itu dari bala atau marabahaya yang dimungkinkan terjadi. Namun hati-hati ya memaknai tradisi membuang ayam tersebut. Jika sampai pada pemaknaan yang menjurus sinkretisme atau syirik, lebih baik ditinggalkan.

baca juga: Kriteria Memilih Calon Istri menurut Islam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

× chat kami